"Menurut sampeyan poligami itu boleh nggak Mas ?”, Harfa mengawali pembicaraan di suatu siang. Sambil membetulkan duduknya di ujung sofa yang satu, Kokowe menarik nafas dalam, ingin langsung mengatakan yang dirasakannya, tapi nggak mungkin.
Dia tahu gadis tinggi yang duduk diujung sofa sana sedang membutuhkan dukungan untuk tidak tenggelam dalam riuh kabar yang beredar di lingkungan kantor. Barangkali hanya hembusan nafas AC diatas mereka duduklah yang membuat rambut didalam kerudungnya tidak mongering sementara isi kepala sudah mendidih karena tidak tahan berbagai macam omongan orang.
Bak seorang Resi di cerita Mahabarata, Kokowe memberanikan diri mengeluarkan uneg-uneg dengan tutur yang bijak, setidaknya menurut dia sendiri. “Kalau ditanya tentang poligami, jelas itu boleh, karena ada dasar secara Islam. Aku nggak bisa bilang itu nggak boleh —”
Harfa menatap tajam, dari bola matanya terlihat sangat berharap jawaban Kokowe selanjutnya memberikan angin segar disela panasnya halaman kantor siang itu.
“— kalau ditanya pendapat pribadi, aku nggak setuju, bagaimanapun juga pasti ada pihak yang merasa kecewa dengan keputusan itu. Sedikit atau banyak itu pasti ada.“. Belum sempat bibir manis Harfa mengeluarkan sepatah kata, Kokowe buru-buru menyambung “Harfa, aku telah banyak mendengar ceritamu, dan dengan segala kerendahan hati aku berusaha menghormati keputusan yang akan diambil. Apapun itu”
Menyandarkan tubuhnya kembali di sofa hijau berkapasitas 3 orang, Harfa terdiam menunggu.
“Lakukan apa yang menurutmu benar dan baik, semuanya mengandung resiko yang harus ditanggung. Dan aku ingin kamu siap saat nanti waktunya tiba”. Kokowe bernapas lega, seakan terlepas dari pikulan berat yang diberikan kepundaknya.
***
Sekitar lima tahun dari percakapan siang bolong itu, masih diruang yang dulu, Kokowe duduk didepan laptopnya. Ruangan itu sudah jauh berbeda dengan yang dulu walaupun beberapa perabot lama masih ada dan tembok kokoh buatan belanda yang tebal masih berdiri gagah. Bedanya sekarang hanyalah balutan warna hijau muda yang belum genap satu minggu umurnya.
Walaupun warna hijau muda, menurut beberapa buku warna memberikan kesan adem, tapi tidak demikian yang sedang dirasakan hati Kokowe. Bayangan dua wajah selalu muncul bergantian kadang berputar seperti Yin dan Yang melingkar, memenuhi hari-hari kemarin dan esok pagi.
Disela bising suara laci dokumen bertingkat yang terbuat dari plat baja yang sedang didorong oleh Pak Surpalan, lelaki baya yang dengan setia menjaga kebersihan dan kerapian kantor, bisikan dalam hati Kokowe sangat jelas.
“Apakah ini berarti waktuku telah datang ? waktu untuk menghadapi resiko seperti yang ku maksudkan ke Harfa dulu?”
—Aku nangis skg mas— Kokowe tersenyum sendirian mengingat si pengirim SMS itu malam tadi.
Pesan singkat dari nomor hp yang tercatat di phonebook-nya sebagai milik Emel sudah dihapus. Lantaran hanya cara itu yang tepat untuk mendinginkan (sementara) bara dalam sekam kepercayaan dari seorang yang telah memutuskan untuk mendampinginya dalam suka dan duka.